Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004
Ukuran Buku: 20 cm
Tebal: 208 Halaman
Sumber: -
Kevin adalah seorang murid di sebuah sma, berambut pirang, berkacamata, dan mempunyai hobi di bidang fotografi. Kali ini dia memasuki semester baru dengan tekad untuk berubah, kevin ingin memiliki pacar, ya, pacar seperti yang dimiliki sahabatnya "Jack". Sekolah Kevin memiliki tatanan ruang yang bagus dengan ibu kepala sekolah yang lumayan mm.. well galak. Suatu hari saat kevin melamun dikelas, memperhatikan objek yang akan difotonya (kevin selalu membawa kamera kemana-mana dengan alibi ketertarikannya di bidang fotografi) terfokus dengan objeknya, namun, tiba-tiba semua berubah saat gurunya membawa masuk seorang murid perempuan pindahan.
Vanessa.. nama itu selalu bergeming di telinga Kevin, dia jatuh cinta di pandangan pertama. Berbagai usaha dilakukan Kevin untuk menarik perhatian Vanessa, mulai usaha kecil, sampai berguru pada Jack sahabatnya, namun usaha itu malah membuatnya semakin buruk di mata Vanessa. Suatu hari Kevin menyadari Vanessa memiliki hobi yang sama dengannya "Fotografi", dengan fotografi akhirnya mereka menjadi semakin dekat, namun masalah datang saat Vanessa memajang foto ibu kepala sekolah yang murka akibat ibu kantin menjatuhkan makanan di sepatunya. Kevin berusaha membantu Vanessa, dan saat itulah hubungan mereka semakin dekat, dan titik terang dihadapan, tiba-tiba Kevin mengutarakan ketertarikan kepada Vanessa, dan akhirnya mereka berciuman. Kissing Vanessa…
Menentukan subnet Id terakhir, broadcast (Batas akhir dari suatu subnet Id) Untuk melihat broadcast id kita lihat angka decimal subnet berikutnya dikurang satu.
0 sampai 31 = Subnet Awal 32 sampai 63 64 sampai 95 96 sampai 127 128 sampai 159 160 sampai 191 192 sampai 223 224 sampai 255 = Subnet Akhir
Id awal merupakan subnet Id, sedangkan Id terakhir merupakan broadcast Id.
Aturan dalam Subnetting :
Baris awal dan akhir subnet work adalah subnet Id yang tidak digunakan oleh host manapun.
Untuk menentukan valid host, diambil host Id yang ada diantara subnet Id dan broadcast Id dan subnet awal dan akhir dihilangkan.
Vaild hostnya adalah :
33 sampai 62 65 sampai 94 97 sampai 126 129 sampai 158 161 sampai 190 193 sampai 222
Jadi, valid host diatas merupakan IP address yang digunakan dalam setiap sub network.
Berikut adalah gambar dari hasil perhitungan Subnetting mask pada Class C :
Seiring berjalannya waktu, dalam dunia bisnis yang persaingannya semakin ketat, setiap perusaahan berlomba-lomba untuk meningkatkan daya saingnya dengan perusahaan lain. Dalam hal ini khususnya bidang yang sangat berperan penting dalam meningkatkan daya saingnya adalah pada bidang pemasaran. Oleh sebab itu dibutuhkan solusi-solusi dalam menghadapi persaingan yang ada yaitu dengan memacu kinerja sales dalam mencari customer sebanyak-banyaknya. Perkembangan komputer membantu memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaan guna mendapatkan informasi yang lebih mudah dan cepat dilakukan.
Prakalkulasi harga merupakan suatu metode dalam proses perhitungan harga penawaran yang dilakukan oleh sales saat bertemu dengan customer. Mobilitas sales yang cukup tinggi merupakan salah satu alasan yang membutuhkan sebuah proses perhitungan yang dapat dilakukan dengan cepat, efisien dan juga terkontrol ataupun terkoreksi dengan baik.
Untuk menangani kinerja sales tersebut diperlukan sebuah aplikasi atau perangkat lunak dalam proses penyampaian sebuah sistem informasi yang memiliki kemampuan dalam penanganan proses perhitungan yang dilakukan dengan secepat mungkin. Kegiatan Prakalkulasi harga ini dibuat untuk sebuah perusahaan manufacture pada industri kemasan. Dan data-data yang dihitung adalah penentuan harga bahan-bahan pembuat kemasan seperti bahan Film (Alumunium Foil, Celophane atau bahan sejenis plastik), harga bahan kimia atau bahan pembantu, harga bahan-bahan tinta atau bahan pengencer tinta, dan harga tarif mesin yang digunakan pada proses percetakan suatu kemasan yang menghasilkan produk kemasan obat, makanan, minuman, dan jamu. Untuk harga bahan, komponen harga yang digunakan merupakan harga standart. Harga standart maksudnya adalah harga yang telah ditentukan oleh manajemen yang sudah ditentukan dalam kurun waktu periode tertentu. Tarif mesin pun sama yaitu berdasarkan kebijakan yang dilakukan oleh manajemen. Harga dapat selalu berubah sesuai dengan kebijakan manajemen.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka penulis membuat suatu aplikasi dengan judul Pembuatan Aplikasi Prakalkulasi Harga Dengan Menggunakan Borland Delphi 7.0 dan Database Microsoft Access 2003 dimana aplikasi ini digunakan dalam hal perhitungan Prakalkulasi Harga yang dilakukan oleh sales kepada customer secara terkomputerisasi yang berdatabase dengan mencetak hasil perhitungannya secara langsung.
Paragraf adalah susunan dari beberapa kalimat yang terjalin utuh, mengandung sebuah makna, dan didalamnya terdapat gagasan utama. Paragraf deduktif dan Induktif adalah salah satu contoh paragraf yang dilihat dari letak gagasan utamanya. Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragaraf dan dilengkapi dengan kalimat penjelas sebagai pelengkapnya. Paragraf ini diawali dengan pernyataan umum dan disusul dengan penjelasan umum. Kata-kata transitif digunakan untuk menggabungkan ide-ide, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf
Contoh
Berikut adalah contoh dari Paragraf Deduktif yang didalamnya terdapat kata Transisi :
Di dalam hidup ini, tidak ada jalan pintas untuk sukses sejati. Kalaupun ada, pasti ada “harga” lain yang harus dibayar untuk itu. Sayangnya, kita seringkali kurang sabar dalam mencoba meraih cita-cita. Bila fokus pikiran kita dipenuhi keinginan mencapai sukses sacara singkat, maka langkah yang kita ambil bisa cenderung negatif. Bisa menghalalkan semua cara, melanggar hukum, bahkan tega mencelakai siapa pun yang mencoba menghalanginya memperoleh sukses secara instan. Untuk apa mengejar “sukses dengan jalan pintas” kalau hanya penyesalan yang didapat di kemudian hari? Jika sikap mentalitas seperti ini yang dimiliki, kita tidak akan bisa menjadi manusia tangguh dalam menghadapi segala ujian dan cobaan. Sesungguhnya kenikmatan kesuksesan justru berada pada nilai proses perjuangan yang kita lakukan dan kemampuan kita mengatasi setiap halangan yang menghadang ! Oleh sebab itu, kita harus mampu memperjuangkan dengan penuh semangat, pantang menyerah, demi terwujudnya kesuksesan yang kita harapkan tanpa melalui jalan pintas.
(1)Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan frustasi yang menggantung. Dia terlihat berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu. Sebentar-sebentar, ia terduduk dan menghela napas panjang. Kegiatan itu diulangnya berkali-kali, seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. (2)Saat pikirannya sedang menerawang entah ke mana, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk. (3)Dengan perasaan kesal, ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba itu. (4)Maka, sarang itu pun dirusak tanpa ampun. (5)Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya? Apakah laba-laba akan lari terbirit-birit, atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain? Rasa penasaran itu rupanya segera mendapatkan jawaban. Tak lama, si laba-laba tampak kembali ke tempatnya semula. Laba-laba itu mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap-merajut-melompat. Setiap helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar dan tanpa kenal lelah laba-laba itu kembali menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya. Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat penuh untuk memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk kedua kalinya. (6)Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, diamati ulah si laba-laba. Apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah sarangnya dirusak untuk kedua kalinya? Ternyata untuk ketiga kalinya, laba-laba mengulangi kegiatannya kembali, memulai dari awal. Dengan bersemangat merayap-merajut-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, laba-laba itu memintal membuat sarang sedikit demi sedikit. Setelah melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk ketiga kalinya. Saat itulah si pemuda mendadak tersadarkan. Tidak peduli sarang laba-laba dirusak atau dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. Semangat binatang yang begitu kecil, dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, telah membuka kesadaran si pemuda. (7)Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya. (8)Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan ! Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi ! Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari setiap kehancuran !” Segera, si pemuda bangkit, dan bertekad kuat untuk bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai dari awal lagi, tanpa putus asa.
Menganalisa Kesalahan dari Suatu Kalimat :
1. Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum.
Pembahasan :
Pada kalimat diatas seharusnya kata tampak dan tengah dihilangkan, karena jika kata tampak dihilangkan maka kata seorang pemuda akan menjadi subjek dan kata tengah tidak baik untuk diletakkan karena mengandung makna yang berbeda. Kalimat yang tepat adalah Pada suatu sore, seorang pemuda berada di sebuah taman.
2. Saat pikirannya sedang menerawang entah ke mana, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk.
Pembahasan :
Pada kalimat diatas seharusnya kata saat dihilangkan karena pada kalimat tersebut akan membentuk frase, kata pikirannya diperjelas dengan kata pikiran pemuda itu untuk memperjelas subjeknya. Dan kata tiba-tiba sebaiknya diganti dengan kata kemudian, yang berfungsi untuk mengakhiri suatu pernyataan. Kalimat yang tepat adalah Pikiran oemuda itu sedang menerawang entah kemana, kemudian pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya diantara ranting sebatang pohon tempat dia duduk.
3. Dengan perasaan kesal, ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba itu.
Pembahasan :
Pada kalimat diatas, seharusnya kata kemudian dihilangkan karena kata kemudian seharusnya dipakai untuk mengakhiri suatu pernyataan, namun pada kalimat diatas masih terdapat statemen baru dengan menggunakan konjungsi dan. Kalimat yang tepat adalah Dengan perasaan kesal, ia pun iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba tersebut.
4. Maka, sarang itu pun dirusak tanpa ampun.
Pembahasan :
Kalimat diatas kelanjutan dari kalimat nomor 3, untuk kalimat nomor 3 dan 4 merupakan kalimat majemuk talosetain. Jadi jika ada Dengan…Maka… Kata maka harus dihilangkan. Jadi kalimat yang tepat adalah Sarang itu pun dirusak tanpa ampun.
5. Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba.
Pembahasan : Kalimat diatas seharusnya diperjelas subjeknya dengan kata pemuda itu, dan kata sementara seharusnya dihilangkan karena akan membentuk frase dalam sebuah kalimat. Kalimat yang tepat adalah Seusai pemuda itu melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih untuk mengamati ulah si laba-laba.
6. Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, diamati ulah si laba-laba.
Pembahasan :
Untuk kalimat diatas seharusnya untuk konjungsi menggunakan kata dan, kata namun digunakan untuk menyatakan sebaliknya bukan merupakan kata penghubung dan juga harus diletakkan diawal kalimat.
7. Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya.
Pembahasan :
Untuk kalimat diatas sebaiknya diganti dengan meletakkan subjeknya terlebih dahulu, dan pada kalimat diatas untuk menyatakan kata sifat seharusnya diawali dengan preposisi. Kalimat yang tepat adalah Atas sikap pemuda tersebut menimbulkan perasaan malu.
8. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan ! Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan.
Pembahasan :
Untuk kalimat diatas merupakan kalimat majemuk talosetain, jadi kata maka pada kalimat tersebut harus dihilangkan. Dan kata karena sesungguhnya pun lebih baik dihilangkan karena merupakan frase. Kalimat yang tepat adalah Si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan ! Melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan.
(1)Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. (2)Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan frustasi yang menggantung. Dia terlihat berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu. Sebentar-sebentar, (3)ia terduduk dan menghela napas panjang. Kegiatan itu diulangnya berkali-kali, (4)seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.
Saat pikirannya sedang menerawang entah ke mana, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk. Dengan perasaan kesal, (5)ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba itu. Maka, sarang itu pun dirusak tanpa ampun.
Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati (6)ulah si laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya?(7) Apakah laba-laba akan lari terbirit-birit, atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain?(8) Rasa penasaran itu rupanya segera mendapatkan jawaban. (9)Tak lama, si laba-laba tampak kembali ke tempatnya semula. Laba-laba itu mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap(10)-merajut(11)-melompat. Setiap helai benang dipintalnya (12)dari awal(13), semakin lama semakin lebar (14)dan tanpa kenal lelah laba-laba itu kembali menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.
Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi(15) dengan semangat penuh untuk memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk (16)kedua kalinya. Dengan perasaan puas (17)namun penuh rasa ingin tahu, diamati (18)ulah si laba-laba. Apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah sarangnya dirusak untuk kedua kalinya?(19)
Ternyata untuk (20)ketiga kalinya, laba-laba mengulangi kegiatannya kembali, memulai dari awal. Dengan bersemangat merayap(21)-merajut(22)-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, laba-laba itu memintal membuat sarang sedikit demi sedikit.
Setelah melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk (23)ketiga kalinya. Saat itulah si pemuda mendadak tersadarkan. Tidak peduli sarang laba-laba dirusak atau dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. Semangat binatang yang begitu kecil, dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, telah membuka kesadaran si pemuda.
Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan !(24) Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi !(25) Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali (26)dari setiap kehancuran !”(27) Segera, si pemuda bangkit, dan bertekad kuat untuk bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai (28)dari awal lagi, tanpa putus asa.
1.Pada sore hari (Alasan : Karena pada suatu sore merupakan kesalahan diksi)
2.Pada (Alasan : Kata dari lebih tepat untuk kata tempat, terjadi kesalahan diksi)
3.Dia (Alasan : Kata ia tidak baku, dan untuk kata panggilan didepan harus Kapital)
4.seakan-akan (Alasan : Harusnya merupakan kata yang dibentuk dari pemajemukan dan pengulangan)
5.Dia (Alasan : Kata ia tidak baku, dan untuk kata panggilan didepan harus Kapital)
6.tingkah laku (Alasan : Kata ulah tidak baku)
7.. (Alasan : kesalahan pada tanda baca, seharusnya diakhiri oleh titik (.))
8.. (Alasan : kesalahan pada tanda baca, seharusnya diakhiri oleh titik (.))
9.Tidak (Alasan : Kata tak tidak baku)
10., (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,))
11., dan (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,) juga ditambahkan kata dan)
12.kembali (Alasan : Kesalahan diksi, karena kata dari seharusnya untuk menghubungkan dengan kata tempat)
13.. (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))
14., (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya memakai tanda (,))
15., (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya memakai tanda (,))
16.ke-dua (Alasan : Dalam tingkatan harus memakai tanda (-)
17.tetapi (Alasan : Kesalahan diksi, seharusnya untuk penghubung memakai kata tetapi, bukan namun, namun untuk di awal kalimat)
18.tingkah laku (Alasan : Kata ulah tidak baku)
19.. (Alasan : kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh titik(.))
20.ke-tiga (Alasan : Dalam tingkatan harus memakai tanda (-))
21., (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,))
22., dan (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,) juga ditambahkan kata dan)
23.ke-tiga (Alasan : Dalam tingkatan harus memakai tanda (-))
24.. (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))
25.. (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))
26.oleh (Alasan : Kesalahan diksi, karena kata dari seharusnya untuk menghubungkan dengan kata tempat)
27.. (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))
28.kembali (Alasan : Kesalahan diksi, karena kata dari seharusnya untuk menghubungkan dengan kata tempat)
Artikel 2
Bencana Gunung Berapi
Ratusan orang dievakuasi setelah sebuah gunung berapi meletus di bawah gletser di selatan Islandia. Menurut (1)badan proteksi sipil, Minggu, 21 Maret 2010, erupsi terjadi sekitar pukul 11.30 malam waktu Reykjavik, Islandia, (2)sabtu malam tadi.
Erupsi terjadi di bawah gletser Eyjafjallajokull, gletser kelima terbesar di Islandia. Gunung api (3)itu sendiri tertutup oleh es.
Khawatir akan (4)terjadi banjir akibat gletser mencair, otoritas mengevakuasi sekitar 400 orang di wilayah seluas 160 kilometer tenggara ibukota sebagai pencegahan. Manajer (5)departemen-departemen proteksi sipil, Vidir Reynisson, (6)mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan korban.
Badan Proteksi Sipil (Alasan = Sebuah Institusi Harus Huruf Kapital)
pada sabtu malam (Alasan = Kata tadi merupakan kata penghubung, tidak diletakkan di akhir kalimat)
itu (Alasan = Kata sendiri dihilangkan, karena merupakan kesalahan diksi kata sendiri bukan merupakan keterangan)
terjadinya (Alasan = terjadi tidak menjelaskan kejadiannya)
departemen (Alasan = kata departemen-departemen bukan dalam jumlah banyak , hanya satu departemen)
memberitahukan (Alasan = Kata mengatakan bukan kata baku)