PARAGRAF DEDUKTIF DAN KATA TRANSISI

0 komentar

Teori

Paragraf adalah susunan dari beberapa kalimat yang terjalin utuh, mengandung sebuah makna, dan didalamnya terdapat gagasan utama. Paragraf deduktif dan Induktif adalah salah satu contoh paragraf yang dilihat dari letak gagasan utamanya.
Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragaraf dan dilengkapi dengan kalimat penjelas sebagai pelengkapnya. Paragraf ini diawali dengan pernyataan umum dan disusul dengan penjelasan umum.
Kata-kata transitif digunakan untuk menggabungkan ide-ide, kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf

Contoh

Berikut adalah contoh dari Paragraf Deduktif yang didalamnya terdapat kata Transisi :

Di dalam hidup ini, tidak ada jalan pintas untuk sukses sejati. Kalaupun ada, pasti ada “harga” lain yang harus dibayar untuk itu. Sayangnya, kita seringkali kurang sabar dalam mencoba meraih cita-cita. Bila fokus pikiran kita dipenuhi keinginan mencapai sukses sacara singkat, maka langkah yang kita ambil bisa cenderung negatif. Bisa menghalalkan semua cara, melanggar hukum, bahkan tega mencelakai siapa pun yang mencoba menghalanginya memperoleh sukses secara instan. Untuk apa mengejar “sukses dengan jalan pintas” kalau hanya penyesalan yang didapat di kemudian hari? Jika sikap mentalitas seperti ini yang dimiliki, kita tidak akan bisa menjadi manusia tangguh dalam menghadapi segala ujian dan cobaan. Sesungguhnya kenikmatan kesuksesan justru berada pada nilai proses perjuangan yang kita lakukan dan kemampuan kita mengatasi setiap halangan yang menghadang !
Oleh sebab itu, kita harus mampu memperjuangkan dengan penuh semangat, pantang menyerah, demi terwujudnya kesuksesan yang kita harapkan tanpa melalui jalan pintas.

Menganalisa Kesalahan dari Suatu Kalimat

0 komentar

NAMA : INDRA PURNAMA
KELAS : 3KA15
NPM : 11108021

Gagal dan Bangkit Lagi!!

(1)Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan frustasi yang menggantung. Dia terlihat berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu. Sebentar-sebentar, ia terduduk dan menghela napas panjang. Kegiatan itu diulangnya berkali-kali, seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.
(2)Saat pikirannya sedang menerawang entah ke mana, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk. (3)Dengan perasaan kesal, ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba itu. (4)Maka, sarang itu pun dirusak tanpa ampun.
(5)Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya? Apakah laba-laba akan lari terbirit-birit, atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain? Rasa penasaran itu rupanya segera mendapatkan jawaban. Tak lama, si laba-laba tampak kembali ke tempatnya semula. Laba-laba itu mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap-merajut-melompat. Setiap helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar dan tanpa kenal lelah laba-laba itu kembali menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.
Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat penuh untuk memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk kedua kalinya. (6)Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, diamati ulah si laba-laba. Apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah sarangnya dirusak untuk kedua kalinya?
Ternyata untuk ketiga kalinya, laba-laba mengulangi kegiatannya kembali, memulai dari awal. Dengan bersemangat merayap-merajut-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, laba-laba itu memintal membuat sarang sedikit demi sedikit.
Setelah melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk ketiga kalinya. Saat itulah si pemuda mendadak tersadarkan. Tidak peduli sarang laba-laba dirusak atau dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. Semangat binatang yang begitu kecil, dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, telah membuka kesadaran si pemuda.
(7)Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya. (8)Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan ! Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi ! Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari setiap kehancuran !” Segera, si pemuda bangkit, dan bertekad kuat untuk bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai dari awal lagi, tanpa putus asa.









Menganalisa Kesalahan dari Suatu Kalimat :


1. Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum.

Pembahasan :

Pada kalimat diatas seharusnya kata tampak dan tengah dihilangkan, karena jika kata tampak dihilangkan maka kata seorang pemuda akan menjadi subjek dan kata tengah tidak baik untuk diletakkan karena mengandung makna yang berbeda. Kalimat yang tepat adalah Pada suatu sore, seorang pemuda berada di sebuah taman.

2. Saat pikirannya sedang menerawang entah ke mana, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk.

Pembahasan :

Pada kalimat diatas seharusnya kata saat dihilangkan karena pada kalimat tersebut akan membentuk frase, kata pikirannya diperjelas dengan kata pikiran pemuda itu untuk memperjelas subjeknya. Dan kata tiba-tiba sebaiknya diganti dengan kata kemudian, yang berfungsi untuk mengakhiri suatu pernyataan. Kalimat yang tepat adalah Pikiran oemuda itu sedang menerawang entah kemana, kemudian pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya diantara ranting sebatang pohon tempat dia duduk.

3. Dengan perasaan kesal, ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba itu.

Pembahasan :

Pada kalimat diatas, seharusnya kata kemudian dihilangkan karena kata kemudian seharusnya dipakai untuk mengakhiri suatu pernyataan, namun pada kalimat diatas masih terdapat statemen baru dengan menggunakan konjungsi dan. Kalimat yang tepat adalah Dengan perasaan kesal, ia pun iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba tersebut.

4. Maka, sarang itu pun dirusak tanpa ampun.

Pembahasan :

Kalimat diatas kelanjutan dari kalimat nomor 3, untuk kalimat nomor 3 dan 4 merupakan kalimat majemuk talosetain. Jadi jika ada Dengan…Maka… Kata maka harus dihilangkan. Jadi kalimat yang tepat adalah Sarang itu pun dirusak tanpa ampun.

5. Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati ulah si laba-laba.

Pembahasan :
Kalimat diatas seharusnya diperjelas subjeknya dengan kata pemuda itu, dan kata sementara seharusnya dihilangkan karena akan membentuk frase dalam sebuah kalimat.
Kalimat yang tepat adalah Seusai pemuda itu melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih untuk mengamati ulah si laba-laba.

6. Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, diamati ulah si laba-laba.

Pembahasan :

Untuk kalimat diatas seharusnya untuk konjungsi menggunakan kata dan, kata namun digunakan untuk menyatakan sebaliknya bukan merupakan kata penghubung dan juga harus diletakkan diawal kalimat.

7. Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya.

Pembahasan :

Untuk kalimat diatas sebaiknya diganti dengan meletakkan subjeknya terlebih dahulu, dan pada kalimat diatas untuk menyatakan kata sifat seharusnya diawali dengan preposisi. Kalimat yang tepat adalah Atas sikap pemuda tersebut menimbulkan perasaan malu.


8. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan ! Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan.

Pembahasan :

Untuk kalimat diatas merupakan kalimat majemuk talosetain, jadi kata maka pada kalimat tersebut harus dihilangkan. Dan kata karena sesungguhnya pun lebih baik dihilangkan karena merupakan frase. Kalimat yang tepat adalah Si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan ! Melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan.

Kesalahan Ejaan Dan Diksi

0 komentar

NAMA : INDRA PURNAMA
KELAS : 3KA15
NPM : 11108021

Artikel 1

Gagal dan Bangkit Lagi !!


(1)Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. (2)Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan frustasi yang menggantung. Dia terlihat berjalan dengan langkah gontai dan kepala tertunduk lesu. Sebentar-sebentar, (3)ia terduduk dan menghela napas panjang. Kegiatan itu diulangnya berkali-kali, (4)seakan dia tidak tahu apa yang hendak dilakukannya.

Saat pikirannya sedang menerawang entah ke mana, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon tempat dia duduk. Dengan perasaan kesal, (5)ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan menumpahkan rasa kekesalannya pada sarang laba-laba itu. Maka, sarang itu pun dirusak tanpa ampun.

Seusai melepaskan kejengkelannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati (6)ulah si laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya?(7) Apakah laba-laba akan lari terbirit-birit, atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain?(8) Rasa penasaran itu rupanya segera mendapatkan jawaban. (9)Tak lama, si laba-laba tampak kembali ke tempatnya semula. Laba-laba itu mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap(10)-merajut(11)-melompat. Setiap helai benang dipintalnya (12)dari awal(13), semakin lama semakin lebar (14)dan tanpa kenal lelah laba-laba itu kembali menyelesaikan seluruh pembuatan sarang barunya.

Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi(15) dengan semangat penuh untuk memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk (16)kedua kalinya. Dengan perasaan puas (17)namun penuh rasa ingin tahu, diamati (18)ulah si laba-laba. Apa gerangan yang akan dikerjakannya setelah sarangnya dirusak untuk kedua kalinya?(19)

Ternyata untuk (20)ketiga kalinya, laba-laba mengulangi kegiatannya kembali, memulai dari awal. Dengan bersemangat merayap(21)-merajut(22)-melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya, laba-laba itu memintal membuat sarang sedikit demi sedikit.

Setelah melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk (23)ketiga kalinya. Saat itulah si pemuda mendadak tersadarkan. Tidak peduli sarang laba-laba dirusak atau dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. Semangat binatang yang begitu kecil, dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah, telah membuka kesadaran si pemuda.

Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya. Karena sesungguhnya, si pemuda berada di taman itu dengan hati dan perasaan gundah karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan !(24) Maka, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun berjanji dalam hati, “Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi !(25) Berjuang dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali (26)dari setiap kehancuran !”(27) Segera, si pemuda bangkit, dan bertekad kuat untuk bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai (28)dari awal lagi, tanpa putus asa.


1. Pada sore hari (Alasan : Karena pada suatu sore merupakan kesalahan diksi)

2. Pada (Alasan : Kata dari lebih tepat untuk kata tempat, terjadi kesalahan diksi)

3. Dia (Alasan : Kata ia tidak baku, dan untuk kata panggilan didepan harus Kapital)

4. seakan-akan (Alasan : Harusnya merupakan kata yang dibentuk dari pemajemukan dan pengulangan)

5. Dia (Alasan : Kata ia tidak baku, dan untuk kata panggilan didepan harus Kapital)

6. tingkah laku (Alasan : Kata ulah tidak baku)

7. . (Alasan : kesalahan pada tanda baca, seharusnya diakhiri oleh titik (.))

8. . (Alasan : kesalahan pada tanda baca, seharusnya diakhiri oleh titik (.))

9. Tidak (Alasan : Kata tak tidak baku)

10. , (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,))

11. , dan (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,) juga ditambahkan kata dan)

12. kembali (Alasan : Kesalahan diksi, karena kata dari seharusnya untuk menghubungkan dengan kata tempat)

13. . (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))

14. , (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya memakai tanda (,))

15. , (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya memakai tanda (,))

16. ke-dua (Alasan : Dalam tingkatan harus memakai tanda (-)

17. tetapi (Alasan : Kesalahan diksi, seharusnya untuk penghubung memakai kata tetapi, bukan namun, namun untuk di awal kalimat)

18. tingkah laku (Alasan : Kata ulah tidak baku)

19. . (Alasan : kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh titik(.))

20. ke-tiga (Alasan : Dalam tingkatan harus memakai tanda (-))

21. , (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,))

22. , dan (Alasan : Kesalahan pada tanda baca, seharusnya memakai (,) juga ditambahkan kata dan)

23. ke-tiga (Alasan : Dalam tingkatan harus memakai tanda (-))

24. . (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))

25. . (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))

26. oleh (Alasan : Kesalahan diksi, karena kata dari seharusnya untuk menghubungkan dengan kata tempat)

27. . (Alasan : Kesalahan tanda baca, seharusnya diakhiri oleh (.))

28. kembali (Alasan : Kesalahan diksi, karena kata dari seharusnya untuk menghubungkan dengan kata tempat)



Artikel 2


Bencana Gunung Berapi

Ratusan orang dievakuasi setelah sebuah gunung berapi meletus di bawah gletser di selatan Islandia. Menurut (1)badan proteksi sipil, Minggu, 21 Maret 2010, erupsi terjadi sekitar pukul 11.30 malam waktu Reykjavik, Islandia, (2)sabtu malam tadi.

Erupsi terjadi di bawah gletser Eyjafjallajokull, gletser kelima terbesar di Islandia. Gunung api (3)itu sendiri tertutup oleh es.

Khawatir akan (4)terjadi banjir akibat gletser mencair, otoritas mengevakuasi sekitar 400 orang di wilayah seluas 160 kilometer tenggara ibukota sebagai pencegahan. Manajer (5)departemen-departemen proteksi sipil, Vidir Reynisson, (6)mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan korban.


  1. Badan Proteksi Sipil (Alasan = Sebuah Institusi Harus Huruf Kapital)
  2. pada sabtu malam (Alasan = Kata tadi merupakan kata penghubung, tidak diletakkan di akhir kalimat)
  3. itu (Alasan = Kata sendiri dihilangkan, karena merupakan kesalahan diksi kata sendiri bukan merupakan keterangan)
  4. terjadinya (Alasan = terjadi tidak menjelaskan kejadiannya)
  5. departemen (Alasan = kata departemen-departemen bukan dalam jumlah banyak , hanya satu departemen)
  6. memberitahukan (Alasan = Kata mengatakan bukan kata baku)


UANG DAN BANK

0 komentar

Nama : Indra Purnama
Kelas : 2 KA 15
NPM : 11108021
Tugas Ke-6


Pengertian Uang

Uang adalah segala sesuatu yang diterima atau dipercaya masyarakat sebagai alat pembayaran atau transaksi.

Suatu barang dapat berfungsi sebagai uang barang apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- Dapat diterima oleh umum.
- Jumlahnya sedikit (langka).
- Sangat disukai.
- Tahan lama.
Uang barang mempunyai beberapa kelemahan antara lain :
- Apabila dipecah atau dibagi nilainya menjadi sangat merosot.
- Umumnya tidak tahan lama.
- Nilainya tidak tetap.
- Sukar di simpan dalam jumlah banyak.

Syarat dan Fungsi Uang

Syarat-syarat uang

Uang mempunyai peranan yang sangat tinggi terhadap jalannya roda perekenomian suatu bangsa, oleh karena itu uang harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :
- Diterima dan dipercaya oleh umum.
- Memiliki nilai stabil.
- Ada jaminan dari pemerintah.
- Terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak.
- Mudah disimpan.

Fungsi Uang

Secara umum, fungsi uang dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Fungsi asli, yang terdiri dari :
- Sebagai alat pertukaran, atau tukar menukar.
- Sebagai satuan hitungan.
b. Fungsi turunan uang, antara lain terdiri :
- Sebagai alat pembayaran.
- Sebagai pendorong kegiatan ekonomi.


Macam – Macam Uang

Berdasarkan jenisnya, uang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu uang kartal dan uang giral.

Uang Kartal

Uang yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat pembayaran yang sah berdasarkan undang-undang yang berlaku merupakan uang kartal.
Contoh :
- Uang kartal Negara.
- Uang kartal bank.

Uang Giral

Uang giral dapat diartikan tagihan atau rekening di bank yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.
Contoh :
- Cek
- Bilyet Giro
- Telegrafic Transfer

Pengertian Bank

Bank adalah badan usaha yang mengimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya.

Fungsi Bank

Penghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan yang meliputi :
- Simpanan giro
- Simpanan deposito
- Simpanan Sertifikat deposito
- Tabungan

Jenis-Jenis Bank

Bank berdasarkan penyelenggaraannya dibedakan menjadi 4 (empat) macam, yaitu :
- Bank Pemerintah / Negara
- Bank Swasta Nasional
- Bank Swasta Asing
- Bank Koperasi

Bank berdasarkan bentuk hukumnya :
- Persero ( Perusahaan perseorangan)
- Perseroan terbatas (PT)
- Perusahaan Daerah (PD / Perusda)
- Koperasi

Berdasarkan Fungsinya bank dibedakan menjadi :
- Bank Sentral
- Bank Umum
- Bank Perkreditan Rakyat


Motif Masyarakat Memegang Uang

Permintaan uang adalah kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Menurut Keynes, ada tiga (motif) alasan masyarakat memegang uang yakni :

a. Motif Transaksi (Transacton Motive)

Permintaan uang untuk transaksi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat pendapatan nasional.

b. Motif berjaga-jaga (Precautionary motive)

Motif ini juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka tingkat kesadaran terhadap masa depan akan semakin tinggi. Kondisi masa depan yang tidak menentu akan mendorong orang untuk melakukan motif ini. Hal tersebut akan membawa kebutuhan yang semakin tinggi akan perlunya uang untuk berjaga. Secara aggregate semakin tinggi pendapatan nasional, maka kebutuhan masyarakat terhadap uang untuk berjaga-jaga juga akan semakin tinggi.

c. Motif Spekulasi (Speculative Motive).

Arti spekulasi pada motif ini adalah spekulasi dalam pembelian dan penjualan surat-surat berharga. Motif ii dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Apabila tingkat suku bunga naik, maka harga surat-surat berharga akan turun. Jadi naiknya tingkat suku bunga akan menaikkan permintaan untuk spekulasi dan sebaliknya.

Tugas Pokok Bank

Tugas pokok Bank Sentral
Menurut UU Nomor 13 Thn 1968, tugas pokok bank sentral adalah :
- Mencetak dan mengatur peredaran uang.
- Menjaga kestabilan nilai uang.
- Memberikan kredit kepada bank-bank diseluruh Indonesia.
- Mendorong dan menggerakkan dan masyarakat untuk pembangunan.
- Menetapkan bunga bank.
- Mengawasi bank-bank seluruh Indonesia.
- Bertindak sebagai pemegang kas Negara.

Tugas Bank Umum adalah :
- Sebagai agen pembangunan.
- Sebagai pembuat dan pengedar uang giral.
- Sebagai perantara transaksi perdagangan luar negeri.

Kebijakan Moneter


Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, "margin requirement", kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.

Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga, pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran) serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.

Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :

1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar.

2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).

Struktur Pasar

0 komentar

Nama : Indra Purnama
Kelas : 2 KA 15
NPM : 11108021
Tugas ke-5

Struktur Pasar memiliki pengertian penggolongan produsen kepada beberapa bentuk pasar berdasarkan pada ciri-ciri seperti jenis produk yang dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar atau masuk ke dalam industri dan peranan iklan dalam kegiatan industri.

Pada analisa ekonomi dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna (yang meliputi monopoli, oligopoli, monopolistik dan monopsoni).

Macam-macam Struktur Pasar :
Bentuk-Bentuk Pasar :

1. Pasar Persaingan Sempurna

Pasar persaingan sempurna adalah pasar dimana :
- Jumlah produsen banyak.
- Volume produksi setiap produsen hanya merupakan bagian yang kecil dari
volume transaksi total di pasar.
- Produknya homogen.
- Informasi pasar sempurna.
- Mobilitas faktor produksi sempurna.

Aplikasi :
- Produsen secara indivigual tidak dapat mempengaruhi harga,
- Harga ditentukan oleh pasar,
- Produsen sebagai price maker,
- Kurva sejajar sumbu horizontal.

Dalam pasar persaingan sempurna, keputusan mengenai jumlah output perusahaan
secara individual tidak bisa mempengaruhi tingkat harga, dan untuk keputusan
mengenai penentuan harga, kurva permintaan menggambarkan secara horizontal,
oleh karena itu harga dianggap konstan, berapapun output yang dihasilkan. Dengan
demikian maka laba total akan didapat pada saat: MR = P = MC sepanjang P > AVC.

2. Pasar Monopoli

Ciri-ciri Pasar Monopoli : - Hanya ada satu penjual.
- Close Substitute Output.
- Ada halangan bagi perusahaan lain untuk memasuki.

Sebabsebab timbulnya monopoli :
- Penguasaan bahan mentah yang bersifat strategis.
- Hak patent.
- Terbatasnya pasar dibandingkan dengan skala produksi minimum.
- Adanya lisensi dari pemerintah.

Pada monopoli maka kurva permintaan = kurva MR sehingga P = AR dengan
demikian maka :
- Keseimbangan akan terjadi bila MR = MC
- Laba maksimal akan terjadi bila P > AR
- BEP kan terjadi bila P = AR - Rugi minimal akan terjadi bila P < AR

Penentuan harga output dalam pasar monopoli dalam jangka pendek.
Monopoli adalah satusatunya produsen yang ada di pasar, maka permintaan yang
dihadapi adalah permintaan pasar dengan demikian maka kurva permintaan akan
miring dari kiri atas kekanan bawah.
Produsen akan berproduksi pada tingkat output dimana keuntungan yang diperoleh
maksimum.

Karena monopolis adalah penjual tunggal, kurva yang dihadapinya adalah kurva yang
mempunyai slope yang negatif. Berarti seseorang monopolis dapat menjual outputnya
lebih banyak dengan menurunkan harga jual. Oleh sebab itu MR akan lebih kecil dari
harga produk dan kurva MR berada dibawah kurva permintaan.

3. Pasar Monopolistik

Arti dari pasar monopolistik adalah suatu bentuk interaksi antara permintaan dengan penawaran di mana terdapat sejumlah besar penjual yang menawarkan barang yang sama. Pasar monopolistik merupakan pasar yang memiliki sifat monopoli pada spesifikasi barangnya. Sedangkan unsur persaingan pada banyak penjual yang menjual produk yang sejenis.
Contoh:
produk sabun yang memiliki keunggulan misalnya untuk kecantikan, kesehatan dan lain-lain.

Ciri-ciri dari pasar monopolistik adalah:
1) Terdapat banyak penjual/produsen yang berkecimpung di pasar.
2) Barang yang diperjual-belikan merupakan differentiated product.
3) Para penjual memiliki kekuatan monopoli atas barang produknya sendiri.
4) Untuk memenangkan persaingan setiap penjual aktif melakukan promosi/iklan.
5) Keluar masuk pasar barang/produk relatif lebih mudah.

4. Pasar Oligopoli

Arti dari pasar oligopoli adalah suatu bentuk interaksi permintaan dan penawaran, di mana terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai seluruh permintaan pasar.

Ciri-ciri dari pasar oligopoli adalah:
1) Terdapat beberapa penjual/produsen yang menguasai pasar.
2) Barang yang diperjual-belikan dapat homogen dan dapat pula berbeda corak
(differentiated product), seperti air minuman aqua.
3) Terdapat hambatan masuk yang cukup kuat bagi perusahaan di luar pasar untuk
masuk ke dalam pasar.
4) Satu di antaranya para oligopolis merupakan price leader yaitu penjual yang
memiliki/pangsa pasar yang terbesar. Penjual ini memiliki kekuatan yang besar
untuk menetapkan harga dan para penjual lainnya harus mengikuti harga tersebut.
Contoh dari produk oligopoli: semen, air mineral.

Perilaku Konsumen dan Produsen

0 komentar

Pendekatan Perilaku Konsumen
Pendekatan untuk mempelajari tingkah laku konsumen ada 2 :
1. Pendekatan Marginal Utility (Cardinal), berlangsung bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satu satuan, misalnya uang.
2. Pendekatan Indifference Curve (Ordinal) yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah. Dalam pendekatan Marginal Utility digunakan anggapan sebagai berikut :
1. Utility bisa diukur dengan uang.
2. Hukum Gossen (The Law of Diminishing Returns) berlaku yang menyatakan bahwa “Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun”.
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.
Total Utility adalah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang tertentu. Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu.

Ada 4 Macam Konsep Elastisitas :
1. Elastisitas harga permintaan (Ed)
2. Elastisitas harga penawaran (Es)
3. Elastisitas silang (Ec)
4. Elastisitas pendapatan (Ey)

Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas harga permintaan adalah prosentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga itu sendiri

Elastisitas Penawaran

Elastisitas penawaran (Es) yaitu prosentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan akibat terjadinya perubahan harga itu sendiri

Elastisitas Silang

Elastisitas silang (Ec) yaitu prosentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga barang lain.

Elastisitas Pendapatan

Elastisitas pendapatan (Ey) adalah prosentase perubahan kuantitas barang yang diminta akibat terjadinya perubahan pendapatan



Perilaku Produsen

Tujuan Perusahaan

o Maksimisasi Sumberdaya (Tenaga Kerja)
o Maksimisasi Output (Penjualan)
o Maksimisasi Growth (Pertumbuhan)

Kategori Kegiatan Produksi :

o Produksi sesuai pesanan (custom-order production)
o Produksi massal yang kaku (rigid mass production)
o Produksi massal yang fleksibel (flexible mass production
o Proses atau aliran produksi (process or flow production)

Fungsi Produksi

o Model matematis yang menunjukkan hubungan antara jumlah faktor produksi (input) yang digunakan dengan jumlah barang atau jasa (output) yang dihasilkan.
o Fungsi Produksi Total (Total Product): TP
TP ↔ Q = f(L, K); L = tenaga kerja, K = Modal
o Produksi rata-rata (Average Product): AP
APL = TP/L atau APK = TP/K
o Produksi Marjinal (Marginal Product): MP
MPL = ∆TP/∆L atau MPK = ∆TP/∆K

The Law of Diminishing Return
(Produksi Optimal)

o Hukum yang menyatakan berkurangnya tambahan output dari penambahan satu unit input variabel, pada saat output telah mencapai maksimum.
o Asumsi yang berlaku:
1. Hanya ada satu unit input variabel, input yang lain tetap.
2. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi tidak berubah.
3. Sifat koefisien produksi adalah berubah-ubah.

Fungsi Produksi Cobb-Douglas

o Analisis yang menghubungkan input dan output, Q = AKaLb
1. Nilai konstanta A, a dan b membedakan proses produksi satu dengan yang lain, menunjukkan teknologi yang digunakan.
2. Nilai a menunjukkan elastisitas input K.
3. Nilai b menunjukkan elastisitas input L.
4. Skala produksi;
o Increasing return to scale, a + b > 1
o Constant return to scale, a + b = 1
o Decreasing return to scale, a + b < 1
5. Perbandingan penggunaan input, jika a > b (capital intensive) atau a < b (Labor intensive)

Kombinasi Input Variabel Biaya Terendah (Least Cost Combination)
o Terjadi pada titik singgung antara kurva isoquant dengan kurva isocost.

 
Designed by: Indra Purnama | Bloggerized by Dhampire